<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6148414</id><updated>2011-04-21T21:15:35.577-07:00</updated><title type='text'>tausyiah si`akhi</title><subtitle type='html'>Bismillahirrahmaanirrahiim</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tausyiah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6148414/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tausyiah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Raif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15255401331732701623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6148414.post-107020589958320024</id><published>2003-11-30T07:24:00.000-08:00</published><updated>2003-11-30T07:25:09.183-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Pendirian amal..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan amal ibadah yang sempurna, sedikitnya haruslah kita mengetahui dan pandai mempergunakan tiga pendirian amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendirian pertama yang harus menjadi pegangan kita di dalam beramal ialah Isti’anah, yang mengandung pelajaran jangan hendaknya kita mengharapkan perlindungan, pertolongan, kekuatan, ataupun yang lain-lain, kecuali hanya kepada Alloh. Harus pula ditanam dalam ‘itiqad dengan teguh dan kuatnya akan kepercayaan bahwa tiada yang Mahaluhur dan Mahabesar melainkan Alloh; tiada yang wajib disembah dan wajib ditaluk-tunduki melainkan Dia; tidak ada yang dapat memberi rizki, menghidupkan dan mematikan melainkan Dia; singkatnya, hendaklah tertanam dalam hati kita, bahwa tidak ada yang boleh mengenai kita, melainkan dengan izin-Nya.&lt;br /&gt;Kepercayaan yang demikian itu tumbuh daripada penyerahan diri (tawakkal) yang penuh kepada Alloh. Sikap pendirian isti’anah ini memang mahal, karena tidak dapat dibeli dengan harta dunia, lebih-lebih tidak dapat tercapai dengan angan-angan belaka. Tetapi sebaliknya, boleh jadi dikatakan murah karena untuk membeli kita tidak perlu memakai mata uang, melainkan kita hanya wajib berjalan dan berlaku dengan sungguh-sungguh pada jalan yang diridloi Alloh. (Q.S.1/5, Q.S. 2/153, Q.S. 7:128)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendirian amal yang kedua yang dinamakan istiqamah ialah pendirian yang tegak, haluan yang lurus, sikap yang tegas dan nyata, dan menuju suatu maksud yang tentu. Ia tidak tergantung pada jalannya angin, ataupun besar kecilnya gelombang di lautan; tiada api yang menghanguskan dia, tiada pula air yang membasahinya; ia tetap dalam rel ketentuan yang seharusnya, murni, suci, dan hanya bersandar pada satu pendirian yang haq. Gerak langkahnya tidak digantungkan pada perjalanan gerak alam manusia, melainkan terlebih penting dan utama bagi dia adalah berjalannya ketetapan wahyu.&lt;br /&gt;Ia tidaklah takluk pada kehendak alam, melainkan alamlah yang ditaklukkan kepada dirinya. Sehingga orang yang demikian itu semasa hidup di dunia mendapat sejahtera dan sentausa, sedang di akhirat dijanjikan Alloh bahagia yang tak terhingga.&lt;br /&gt;Pendirian amal yang kedua ini sungguh sangat bergandengan dengan pendirian yang pertama bahwa boleh dikatakan bahwa istiqamah itu ialah buktinya isti’anah.&lt;br /&gt;(Q.S. 34/46, Q.S. 2/238, Q.S. 42/13, Q.S. 41/6&amp;30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendirian yang ketiga yakni istitha’ah, yang mengandung ajaran supaya tiap-tiap manusia yang hendak mencapai kesempurnaan, hendaklah suka membanyak-banyakkan, memperluas dan memperdalam sekalian perbuatan dan usahanya. Sebanyak tenaga yang ada dalam diri kita, sebanyak itu pula hendaknya digunakan untuk keperluan membela agama Alloh. Sebanyak-banyak pengetahuan, harta, pengertian dan lain-lain yang dikaruniakan Alloh kepada kita itu, sebanyak itu pula hendaknya kita beramal.&lt;br /&gt;Tidak ada tawar-menawar dan tidak ada pula sikap menanti-nanti. Tiada tujuan bagi dia, melainkan amal ibadah yang sempurnaamal ibadah yang menuntut sekalian yang ada padanya, dhohir dan bathin, yang terkecil hingga yang paling besar yang ada pada dirinya.&lt;br /&gt;(Q.S. 8/60, Q.S. 64/16)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6148414-107020589958320024?l=tausyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6148414/posts/default/107020589958320024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6148414/posts/default/107020589958320024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tausyiah.blogspot.com/2003_11_01_archive.html#107020589958320024' title=''/><author><name>Raif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15255401331732701623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6148414.post-107020565687931314</id><published>2003-11-30T07:20:00.000-08:00</published><updated>2003-11-30T07:21:06.530-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Sandaran hidup..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam menghadapi berbagai macam kewajiban, dan di dalam usaha menyempurnakan amal bakti kepada Alloh, maka sedikitnya kita harus mengingati akan dua amal bakti hidup yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama adalah  taqwa. Seorang muttaqiin tahu akan syariat-syariat agama Islam dan batas-batasnya, dan ia tidak suka melampaui batas itu. Dengan hati-hati, tertib, dan teliti ia menjalankan kewajibannya. Berjaga-jaga di dalam menghadapi tiap-tiap perkara dan pada tiap-tiap waktu, dimana saja tempatnya. Itulah sifatnya yang terutama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada mengetahui dan pandai menjalankan wajib yang nyata (ma’ruf), ia pun selalu ingin dan berdaya upaya untuk menjalankan sunnat, ialah sunnat yang menguatkan dan menyempurnakan wajib. Dan tiap-tiap yang dibolehkan oleh agama (mubah) pun tidak pula ditinggalkan, asal semuanya itu boleh menjadi syarat akan kesempurnaan amal yang sejati, amal bakti kepada Yang Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ia tak hanya menjauhi tiap-tiap yang diharamkan oleh agama, melainkan tiap-tiap sesuatu yang dapat menimbulkan atau boleh menjadi sebab akan timbulnya perbuatan haram, ini pun dijauhi dan dicegahnya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah tawakkal ‘ala-Llah. Sandaran amal yang kedua ini tidak pula kurang pentingnya. Tawakkal berarti penyerahan diri. Bukan penyerahan diri pada siapa pun juga yang disukai, tetapi penyerahan diri kepada Alloh dan bukan yang diluar Dia. Bukan pula satu penyerahan diri yang tidak disertai dengan amal, melainkan tawakkal ialah penyerahan diri di dalam melakukan usaha, langkah, gerak, dan ikhtiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakkal tidak dapat dipisahkan dari taqwa, jika manusia menghendaki hidup yang sempurna, hidup yang diridloi oleh Yang Esa, hidup yang mengharapkan rahmat Alloh SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang bertawakkal dengan tidak bertaqwa, dengan mudahnya timbul sifat menerima taqdir dengan tidak usaha atau sebaliknya boleh juga menumbuhkan sifat nekat atau membuta tuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika orang hanya berpegangan kepada taqwa dengan tidak bertawakkal, pun tidak akan sempurna pula amalnya. Sebab taqwa yang tidak dilakukan bersama-sama tawakkal itu gampang sekali menumbuhkan hati was-was, syak, dan penyakit hati lainnya dalam iman dan tauhid, sehingga segala amalnya itu akan lebih banyak menimbulkan rugi daripada untung, sepanjang ajaran syariat agama Islam.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jika kita tidak suka amal tanggung-tanggung dan tidak menghendaki untung yang setengah-setengah di dalam amal ibadah kita itu, hendaklah kita selalu mengingati akan kedua sandaran hidup tersebut, agar jangan sampai kita mendapat rugi di dunia dan celaka di akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6148414-107020565687931314?l=tausyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6148414/posts/default/107020565687931314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6148414/posts/default/107020565687931314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tausyiah.blogspot.com/2003_11_01_archive.html#107020565687931314' title=''/><author><name>Raif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15255401331732701623</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
